nu

nu

Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk

                                 Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk
Ahmad Rifa’i Rif’an

Time is my life
Sesampainya di rumah setelah selesai mengurus jenazah kakeknya, Sulaiman bin Abdul Malik, Khalifah Umar bin Abdul Aziz istirahat dengan berbaring di ranjang. Tak selang lama, putra Umar, Abdul Malik, datang kepadanya dan bertanya : “Wahai Amirul mu’minin, gerangan apakah yang membaringkan Anda di siang hari bolong seperti ini?”
Umar menjawab, “Aku letih, aku butuh istirahat”
Abdul Malik berkata, “Pantaskah Anda beristirahat padahal banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, masih banyak rakyat tertindas yang butuh pertolonganmu.”
Umar menjawab, “Semalam suntuk aku menjaga pamanmu dan itu yang mendorong aku untuk istirahat, nanti setelah sholat dhuhur aku akan mengembalikan hak-hak orang-orang yang tertindas dan teraniaya.”
Sang anak pun bertanya, “Wahai Amirul Mu’minin, siapakah yang menjamin Anda hidup sampai Dhuhur? Bagaimana kalau Tuhan menakdirkan Anda meninggal dunia sekarang?”
Kemudian Umar bangun dan pergi membawa satu karung pikulan gandum, lalu mencari orang yang kelaparan.

Hakikat waktu
Setiap manusia di muka bumi ini diberikan jumlah waktu yang sama oleh Tuhan, yaitu 60 menit setiap jam, dan 24 jam setiap hari. Yang menjadi masalah bukanlah jumlah waktunya, tetapi bagaimana manusia memanfaatkan waktunya. Waktu adalah esensi hidup kita yang dengannya kita diberi pilihan untuk mengisinya dengan aktivitas yang kosong atau dengan melakukan hal-hal yang produktif. Malik bin Nabi dalam bukunya Syuruth An-Nahdhah memulai uraiannya dengan mengutip satu ungkapan yang dinilai oleh sebagian ulama sebagai hadits Nabi Muhammad s.a.w., “ Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru, ‘ Putra-putri adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat’.”
“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
“Kehilangan waktu itu lebih sulit daripada kematian, karena kehilangan waktu membuatmu jauh dari Allah dan Hari Akhir, sementara kematian membuatmu jauh dari kehidupan dunia dan penghuninya saja.” (Ibnu al-Qayyim)
“Dunia ini hanya terdiri dari tiga hari : kemarin, ia telah pergi bersama dengan semua yang menyertainya. Besok, engkau mungkin takkan pernah menemuinya. Hari ini, itulah yang kau punya, jadi beramallah di sana.” ( Hasan al- Bashri)
“Wahai Bani Adam (manusia), sesungguhnya anda hanyalah kumpulan hari-hari, maka jika hari telah berlalu berarti telah berlalu sebagian dirimu.” (Hasan al-Bashri)
Begitu berartinya waktu dalam kehidupan kita. Islam telah memberikan gambaran yang utuh tentang memuliakan waktu, karakteristik waktu dan rahasia manajemen waktu nabi. Dalam Al-Qur’an, Allah telah menempatkan waktu pada posisi yang sangat tinggi. Dalam Al-Qur’an waktu benar-benar dimuliakan sampai-sampai banyak sumpah atas nama waktu. Misalnya “Demi waktu” dalam QS. Al-Ashr, “Demi waktu saat matahari naik sepenggalah” dalam QS Adh-Dhuhaa. Setiap orang harus bisa menghargai waktu. Waktu adalah modal bagi seorang hamba. Sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali, “Seseorang yang membiarkan waktunya berlalu sia-sia, dan lenyap begitu saja, sama artinya ia dengan sengaja atau tidak sengaja- telah melenyapkan sisa-sisa masa kehidupannya”.
Setiap detik adalah perjalanan menuju alam kubur, setiap saat adalah tahapan berkurangnya usia dan semakin mendekat pada kematian. Sehingga hamba yang beruntung, ia akan memanfaatkan waktunya untuk kebaikan, tidak ada saat untuk melakukan hal yang sia-sia, dan mengatur waktu yang akan dihabiskan tersebut dengan tujuan yang jelas. Thomas charlyle dalam kata-kata bijaknya mengatakan, “Seseorang yang memiliki tujuan yang jelas dalam hidupnya, akan membuat suatu kemajuan walaupun ia berada di jalan yang sulit. Seseorang tanpa tujuan yang jelas, tidak akan membuat suatu kemajuan meskipun ia berada di jalan yang mulus.”
Bayangkan jika ada sebuah bank yang memberikan uang kepada kita Rp 86.400 setiap pagi dan kita harus menghabiskan semua uang tersebut. Sebab pada malam hari, bank tersebut akan membakar uang yang tersisa, yang tidak kita gunakan. Apa yang akan kita lakukan? Tentu saja kita akan menghabiskan uang tersebut secepat mungkin. Setiap kita, memiliki sebuah bank seperti itu yang bernama “Waktu”. Setiap pagi, ia akan membuka sebuah akun baru dan memberi kita 86.400 detik. Kemudian di malam harinya, ia akan membakar waktu yang tersisa. Jika kita tidak menggunakan waktu tersebut dengan baik, maka kita akan menyesal karena kita tidak dapat meminta kembali sisa waktu yang tidak kita habiskan dan kita juga tidak dapat meminta “uang muka” untuk hari esok.
  • Untuk tahu bagaimana pentingnya waktu dalam 1 tahun, tanyakan pada siswa yang gagal dalam kelas.
  • Untuk tahu bagaimana pentingnya waktu dalam 1 bulan, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
  • Untuk tahu bagaimana pentingnya waktu dalam 1 minggu, tanyakan pada seorang editor majalah mingguan.
  • Untuk tahu bagaimana pentingnya waktu dalam 1 jam, tanyakan pada seorang gadis yang menunggu untuk bertemu kekasihnya.
  • Untuk tahu bagaimana pentingnya waktu dalam 1 menit, tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat.
  • Untuk tahu bagaimana pentingnya waktu dalam 1 detik, tanyakan pada orang yang selamat dari kecelakaan.
  • Untuk tahu bagaimana pentingnya waktu dalam 1 mili detik, tanyakan pada orang yang meraih medali perak dalam pertandingan.
Bukan ‘Berapa?’, tapi ‘Untuk apa?’
Waktu terus mengalir menuju sisa yang semakin sempit. Lalu kalimat tanya klasik yang seharusnya terus-menerus kita ajukan kepada jiwa kita sendiri hanyalah satu. Karena satu kalimat tanya itu nantinya juga akan menjadi kalimat tanya yang diajukan Allah kepada kita di akhir masa : Waktumu kau habiskan untuk apa?
Masa terus mengalir menuju peraduannya. Detik demi detik pun akan tetap melaju. Kencang atau tidak lajunya bukan bergantung jam dinding yang menempel di kamar. Cepat lambatnya waktu tak ada kaitannya dengan jam digital yang kita tatap tiap saat buka HP. Cepat lambatnya waktu akan berbeda bagi tiap orang, meskipun jarum detik tetap bergerak dengan kecepatan yang sama. Umur kita bergantung besar pada produktivitas kita dalam memanfaatkan usia. Jadi, sekalipun orang dikatakan memiliki umur panjang, tetapi kalau hidupnya tidak produktif, pada hakikatnya ia berumur pendek.  Bahkan, ia mengalami kebangkrutan dalam umurnya, karena fasilitas usia yang diamanatkan oleh Allah dan dipertanggung jawabkan kelak di hari akhir tidak digunakan secara efektif dan produktif.
Dengan sindiran yang cukup telak, Buya Hamka pernah menasehatkan, “Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja.” Dengan perumpamaan babi hutan dan kera, Buya Hamka seolah menuturkan bahwa jika kualitas hidup kita hanya sekedar menjalani hidup mengalir tanpa punya makna, maka apa bedanya dengan babi hutan yang selama ini kita rendahkan. Kalau tiap hari kita bekerja dan bekerja hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup tanpa ada tujuan yang lebih tinggi, apa beda kita dengan kera yang tiap hari juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Masa terus beralih menuju titik peraduannya, dan Allah tak pernah memberi kalimat tanya dengan kata awal ‘berapa’. Kalimat tanyanya adalah ‘Untuk apa’. Masa tak pernah menunggu. Usia tak pernah menanti. Satu yang pasti, usia kita adalah amanah yang tidak gratis. Ia merupakan modal yang diberikan Allah untuk kita dan tidak ada jeda untuk istirahat. Sibukkan diri dengan hal-hal yang produktif dan lelahkan jiwa dengan merangkai ide-ide yang bermanfaat bagi banyak makhluk.
Lelah adalah nikmat. Lelahnya muslim bisa menjadikannya lebih dekat kepada Rabb-nya. Di siang hari ia curahkan energi dalam perjuangan iman, dan di malam harinya dengan berjuta keluh kesah yang ia adukan lelahnya di tiap sujud malamnya. Sibuk seorang muslim juga indah. Dalam sibuk ia berlatih untuk mengelola waktu, mengatur jadwal, dan merapikan agenda. Benar kata seorang teman, “ Jika ingin memberi amanah, berilah pada orang yang sibuk karena dia lebih pandai mengatur waktu ketimbang mereka yang terbiasa menganggur.”  Bagi makhluk, waktu memiliki sifat yang misterius: tidak dapat kembali, cepat berlalu, dan momen yang berlalu belum tentu dapat terulang. Sehingga terkadang penyesalan datang pada manusia yang telah menyiakan waktunya dengan hal-hal yang mubazir, bahkan dengan keburukan.

Sibukkanlah diri karena sibuk itu indah. Apalagi jika sibuk dalam agenda ibadah. Nikmati kesibukan dan kumpulkan poin sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan dengan tiket surga yang paling indah. Ketika kita benar-benar dalam waktu yang teramat sibuk, kita baru akan menyadari betapa berharganya waktu luang yang selama ini kita biarkan terlewat begitu saja. Kita tidak harus menghindari beristirahat atau rekreasi. Yang kita hindari adalah menyia-nyiakan waktu. Rekreasi itu sendiri berarti menciptakan kembali. Salah satu tragedi terbesar dalam kehidupan modern ialah kehidupan kita yang tergesa-gesa, kita sering membiarkan diri kita melesat terlalu jauh dari rohani sehingga diragukan apakah keduanya dapat bertemu kembali di dunia.

di ringkas oleh :Fathurrahmah 
santri kelas imrithy di PPM Aswaja Nusantara
Mahasiswi fakultas ekonomi di UMY

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar