nu

nu

Senyuman...

Senyuman

Senyuman...
Senyuman itu bagaikan mentari pagi
Yang senantiasa menyinari bumi tanpa henti
Disiang hari,, sore hari engkau tanpakan senyummu
Bagaikan air yang mengalir  dari daratan rendah ke daratan tinggi
Dan itu,, Takkan mungkin terjadi
Wahai sahabat ku
Tersenyumlah ,,
Tersenyumlah Sebelum aku mensenyumimu

Senyum didepan saudaramu merupakan salah satu ibadah yang mulia serta membuat kalian amet muda.

Alwi  ansori



Kisah klasik di pesantren

Kisah klasik di pesantren

Kring...kriiingg....kriinggg...
Suara itu yang selalu kami dengar saat mamasuki waktunya sholat fardhu dan mengaji.
Di pagi hari kami rasanya males dan merasa terganggu akan suara deringnya.
Disaat kami terlelap akan pulasan dalam mimpi yang rasanya enggan kami tinggalkan.
Tetapi itulah kewajiban kami harus bangun dalam kenyenyakan yang amat sangat menyedihkan ketika mendengarkan suara dering bel yang selalu bunyi disetiap saat.
Huuhh,,,,(antri deh)
Gemericik air selalu kami dengarkan saat antri akan mengambil air wudhu yang suci.
Dengan mata yang enggan terbuka kami pun memaksakan untuk tetap mengambil air wudhu dan  melaksanakan kewajiban kami sebagai seorang muslim.
Allah huakbar,, allah huakbar,,,dst
Adzhan telah dikumandangkan,,, saat itulah kami memulai melaksanakan  kewajiban kami.
Heeemmm,,,,
Selalu dan selalu begitu,,, sehabis sholat ada yang namanya les bahasa inggris,,,, (sambil menunggu)
Yeyeyeeye,,,,
Waktu sudah menunjukan Pukul 06.00,,,, saatnya kembali ke asrama masing-masing,,,,,
Setelah itu kami bergegas dengan acara kami masing-masing,,,
Ada yang sekolah,kerja, kuliah dan lain sebagainya.
Hahahahhaa....
Tapi itu semua kami lakukan demi masa depan cita-cita kami koq.
Hehheheheehe,,,,


MASYARAKAT, SANTRI SLAF DAN NON SALAF

MASYARAKAT, SANTRI SLAF DAN NON SALAF
Sama-sama belajar, menjawatkan ilmu, mengejawantahkan diri di instansi informal, dan menimba wawasan dengan wawasan dengan harapan mempunyai cakrawala luas untuk bekal esok hari. Itulah yang mayoritas orang sebut santri. Namun setelah masuknya kolonialisme beberapa abad yang lalu, yang membwa suatu system pembelajaran yang biasa di sebut sekolah formal, dan sampai saat ini institusi yang di lahirkan colonial tersebut berkembang sangat pesat. Shingga kalu pada zaman dahulu hanya anak yang bergolongan darah biru saja yang dapat merasakan, sekarang seoa orang bisa merasakannya dan menikmati bangku sekolah,. Santri pun tidak lepas dari member tersebut. Dan pasca adanya lembaga formal tersebut, melahirkan suatu perbedaan antara santri salaf dan non salaf. , dan juga tidak luput dari faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pola pikir setiap orang yang mendapat kebudayaan tersbut.
SANTRI SALAF
Tokoh pelajar yang satu ini cenderung memiliki mindset  yang masih berbau konsep traditional culture, dan masih memegang teguh prinsip keluhuran budi dan akhlaknya. Terlebih di tunjang religion science yang di berikan oleh staf pengajar di mana ia tinggal, sehingga apabila seorang santri salaf tersebut mendapat suatu perintah, ia akan melaksanakannya tanpa menengok kanan-kiri depan-belakang ,dan berdasarkan iklasul amal pula, karena ia yakin bahwa selain ia harus menuntut ilmu ia juga harus mencari barokah sebagai penunjang keberkahan ilmu yang ia pelajari dimana itu bisa di dapatkan salah satunya dengan mengabdi. Biasanya, santri ini lebih terfokuskan pada satu bidang ilmu, yakni keagamaan, dan juga lebih dicocoki dengan jam ngaji lebih, sehingga peluang untuk keluar,baik jalan-jalan maupun mengunjungi pusat kota dimana macam kultur dan budaya berada, sehingga pengaruh-pengaruh dari luar akan sangat sulit ia terima.
SANTRI NON-SALAF
Lain halnya dengan pelajar yang ini, selain fokus belajar di pesantren, ia juga harus fokus pada mata pelajaran formal, dimana ia akan lebih bisa leluasa berbaur dengan banyak orang yang mempunyai kultur dan budaya yang beragam, dan banyak materi-materi pelajaran umum, sehingga tidak heran andai saja santri yang satu ini mengalami perubahan sosial yang lebih dominan dari santri salaf, juga tak heran seandainya ada beberapa kultur luhur yang mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Dengan faktoractorya
1.         Moderanisasi yang merupakan bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maj / berkembang kea rah yang lebih dari itu (viva pakarindo :page 23).
2.          Westernisasi , di mana ini merupakan tata cara kehidupan meniru langsung ke dunia barat tanpa ada seleksi atau penyesuaian dengan budaya setembat , dan juga yang sering di adopsi oleh orang yang ingin cepat di katakana modern , takut ketinggalan zaman dan demi gengsi. Walaupun tidak semua kalangan santri mendapat efek tersebut, namun mayoritas lebih dominan mengikuti pola hidup dari apa yang mereka dapatkan.

By: Muhammad zainal muttaqin

Santri pelajar mahasiswa aswaja nusantara

Praktik hukum kekekalan energi dalam kehidupan

Praktik hukum kekekalan energi dalam kehidupan
Menerawang
Hukum kekekalan energi : energy tidak dapat di ciptakan dan di musnahkan ,energy hanya bisa di ubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain.
Hukum kekekalan energi Sudah tidak asing lagi di telinga kita, sejak duduk di bangku tingkat SMP , Kita sudah mendapatkan materi tentang hal tersebut. Terlebih lagi , kita sebagai muslim sebenarnya sudah mengenal hukum tersebut.Yang tanpa kita sadari sudah berulang kali membacanya
dalam Al-Qur’an surat Az-Zalzalah

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

 Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula
Apa maksud dari hukum kekekalan tersebut? Dan apamaksud ayat tersebut? Jika kita mengamati orang-orang sukses , maka kita akan menyadari bahwa mereka menerapkan hukum kekekalan dalam hidupnya.

Mereka (orang-orang sukses ) tentunya mendapatkan kesuksesan tidak dengan cara yang mudah , mereka mendapatkan semua itu dengan usaha yang keras dan pendirian yang teguh yang di barengi dengan doa,yang semua itu tidak bisa di hitung dengan jari

Kisah Kisah Inspiratif Pilihan Kick Andy INDONESIA BERANI!

Kisah Kisah Inspiratif Pilihan Kick Andy
INDONESIA BERANI!

BERANI MENGGAPAI MIMPI
Ditengah tengah keterbatasan ekonomi, dimana banyak remaja memilih tidak melanjutkan pendidikan karena ingin segera mungkin dapat bekerja demi memperbaiki kondisi perkonomian, Nuryati berani memperjuangkan cita cita mulianya untuk terus melanjutkan pendidikannya hingga jenjang pendidikan tinggi. Bagi orang sepertinya mimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi merupakan suatu mimpi besar. Memang Nuryati pantas untuk memperjuangkan mimpi besarnya tersebut karena sebagai lulusan terbaik SMA di Serang, Banten tentu sangat disayangkan jika dia harus berhenti mengenyam pendidikan hanya karena hambatan perekonomian. Namun apa daya, kondisi ekonomi tidak memungkinkannya untuk dapat menikmati jenjang pendidikan tinggi. Bagai pungguk merindukan bulan, Nuryati merasa frustrasi dengan kenyataan pahit yang harus ia terima, baginya percuma menjadi lulusan terbaik di sekolah, tetapi tidak bisa melanjutkan kuliah.
Pucuk dicinta ulampun tiba, ketika ia berkunjung ke rumah neneknya, dia melihat seorang temannya di kampung pulang membawa banyak uang setelah menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita (TKI) di Arab Saudi. Nuryatipun berpikir bahwa dengan menjadi TKI dia bisa mendapatkan jalan mengumpulkan biaya untuk melanjutkan pendidikan. Namun dengan banyaknya berita buruk tentang perlakuan majikan di Arab Saudi terhadap para TKI yang bekerja disana, Ayahnya menentang keputusan Nuryati untuk menjadi seorang TKI. Namun Nuryati tidak kehilangan akal, dia menagih janji Ayahnya yang pernah berkata bahwa selepas SMA dia berhak menentukan jalan kehidupannya sendiri. Menyadari hal tersebut Ayah Nuryati akhirnya melepaskan anak perempuannya untuk menjadi TKI di Arab Saudi. Dalam diri Nuryati bagaimanapun tetap terbesit rasa takut akan hal hal buruk yang akan menimpanya sesampai di tempat ia bekerja, namun demi cita citanya ia kalahkan rasa takut yang muncul di hatinya.
Pada tahun 1998 Nuryati berangkat ke Arab Saudi. Akses untuk menjadi TKI dengan mudah ia dapatkan karena kebetulan desa neneknya merupakan kantong TKI di wilayah Banten. Ketika berangkat hampir separuh isi kopernya terisi dengan buku buku pelajaran SMA dan buku pengetahuan umum. Nuryati ingin tetap terus belajar walau tidak melalui pendidikan formal. Dalam tekadnya untuk memperoleh biaya pendidikan, perlakuan buruk sebagai TKI dia rasakan mulai dari tempat penampungan. Para TKI yang akan diberangkatkan diperlakukan tidak manusiawi. Dia sendiri harus merasakan tidur di depan kamar mandi dan makan dengan nasi yang begitu banyak dengan lauk yang hampir tidak ada. Namun seperti kata bijak, “Bermimpilah setinggi tingginya karena jika kau terjatuh kau masih terduduk diantara bintang bintang di langit” maka dengan mimpinya besarnya hal hal yang dia rasakan di tempat penampungan tidak membuatnya terjatuh dan kapok untuk melanjutkan perjuangan demi pendidikan.
Nasib baikpun menghampirinya ketika ia bekerja, Nuryati mendapat majikan yang baik. Di tempat ia bekerja, majikannya memberikan waktu untuk tidur siang dan cek kesahatan setiap tiga bulan sekali. Majikan Nuryatipun merasa heran ketika menyakan apa tujuan Nuryati bekerja adalah untuk mencari uang demi biaya melanjutkan kuliah.Menurut majikannya hal tersebut sangat langka diantara para TKI yang pada umumnya datang bekerja untuk membangun rumah atau membangun usaha di kampung.
Setelah melewati perjuangan sebagai TKI, berakhir sudah masa kerja Nuryati, dengan berbekal uang hasil jerih payahnya, ia mendaftar kuliah. Cita cita yang selama ini ia perjuangkan. Ia mendaftar di Fakultas Hukum, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sebuah perguruan tinggi negeri di wilayah Banten nahkan hingga ia meraih gelar S-2 Jurusan Hukum, Universitas Jayabaya. Kini Nuryati telah menjadi seorang dosen. Sebagai seorang dosen ia tidak merasa malu dengan dirinya yang seorang mantan TKI, justru dengan hal tersebut ia ingin mencetak rekor sebagai seorang mantan TKI yang meraih  gelar profesor.














Little Hero, Big Action
Jamban BSJ (Bersih, Sehat, Jujur)

Kondisi sanitasi di Indonesia masih sangat memprihatinkan, terbukti dengan berita yang dikutip dari surat kabar terkemuka di Indonesia bahwa akhir tahun lalu Indonesia meraih peringkat kedua dalam hal sanitasi, namun bukan sebagai negara dengan sanitasi terbaik melainkan sebagai negara dengan sanitasi terburuk diantara negara negara lain di seluruh dunia. Hal ini terungkap dalam Konferensi yang diadakan oleh World Bank Water Sanitation Program(WSP), mengerikan bukan?
Sementara pemerintah sibuk mengadakan Konferensi Sanitasi dan Air Minum Nasional, tiga orang pelajar SMPN 11 Bandung memulai perbaikan sanitasi dari toilet tempat mereka belajar. Tiga siswi yang tergabung dalam Kelompok Ilmiah Remaja ini memiliki untuk membuat jamban yang  bersih, sehat dan jujur (BSJ) di sekolah mereka. Ide Jamban BSJ ini hanyalah ide sederhana, tapi untuk apa juga memiliki ide besar namun hanya sebatas pada teori teori tanpa aksi.
Pihak sekolah menyambut baik ide pembuatan Jamban BSJ setelah mendapat proposal yang diajukan oleh tim Jamban BSJ yang kini kala itu telah beranggotakan sepuluh orang. Dengan dana Rp 300 ribu yang diberikan oleh pihak sekolah, mereka membersihkan sendiri toilet di sekolah, setelah toilet bersih, mereka menyediakan berbagai perlengkapan toilet seperti sabun untuk mencuci tangan dan pewangi ruangan demi terwujudnya toilet yang tidak hanya bersih tetapi juga sehat.
Lalu apa yang di maksud dengan jujur dalam jamban BSJ ini? Mungkin banyak dari kalian yang kebingungan dan penasaran mengapa ada toilet yang jujur. Untuk memuaskan rasa ingin tahu kalian mungkin sebaiknya saya akan mulai menulis dari mana mereka mendapat ide untuk memasukkan kata ‘jujur’di dalam gagasan jamban mereka. Ini semua berawal dari keprihatinan mereka ketika melihat para siswi siswi yang sembarangan membuang pembalut mereka. Ya, mungkin mereka tidak tahu harus bagaimana karena baru pertama kali datang bulan. Karena itu di jamban mereka terdapat pernak pernik kewanitaan untuk mengatasi berbagai masalah para remaja putri di sekolah mereka ketika mendapat ‘tamu bulanan’. Tim Jamban BSJ menyediakan sebuah kotak yang diletakkan di dalam toilet dimana di sana dalam tiap tiap lacinya pembalut berbagai ukuran, pantyliner dan celana dalam wanita yang semuanya masih dalam kondisi baru. Segala pernak pernik tersebut tentu tidak gratis, tim Jamban BSJ telah menuliskan daftar harga untuk masing masing item. Nah disinilah dibutuhkan kejujuran para pengguna jamban karena mereka hanya akan membayar di kotak khusus yang telah disediakan dan tidak ada orang yang mengawasi apakah mereka membayar atau tidak.
Dari mulai berdirinya Jamban BSJ pada 19 Oktober 2011, tugas tim Jamban BSJ  memantau kondisi jamban setiap harinya termasuk membersihkan jamban yang kotor. Motivasi tim ini memelihara Jamban BSJ karena mereka berharap jika bersih, jamban tersebut akan bermanfaat bagi orang-orang.
Jerih payah tim Jamban BSJ akhirnya menuai sejumlah apresiasi seperti masuk seleksi panel Ashoka Young Changemakers (AYC) 2011 dan mereka juga ditunjuk sebagai Duta Sanitasi 2012 Kota Bandung.
Ditanya mengenai cita cita mereka untuk Jamban BSJ selanjutnya mereka mengatakan ingin memperluas layanan Jamban BSJ di sekolah mereka terlebih dahulu kemudian ke sekolah sekolah terdekat hingga pada akhirnya ditiap sekolah akan paling tidak memiliki satu Jamban BSJ.
Komunitas Sapu Bersih (Saber)
Aksi kepedulian lingkungan secara sukarela yang pada mulanya didirikan oleh Siswanto dan Abdul Rahim ini memiliki kegiatan rutin menyapu dan membersihkan paku paku di jalanan. Mungkin bagi kita yang hidup di wilayah Yogyakarta akan mengernyitkan dahi mendengar komunitas Sapu Bersih (Saber). Bagaimana mungkin ada beratus ratus orang yang tergabung dalam suatu komunitas yang tugasnya hanya sekedar membersihkan paku di jalanan, memang seberapa banyakkah paku paku yang di sebar di jalanan Jakarta? Di kota sebesar Jakarta dimana biaya dan persaingan hidup sangat tinggi, para penambal ban pun mulai menghalalkan segala cara untuk memperoleh penghasilan. Ada beberapa wilayah di Jakarta yang rawan terdapat ranjau paku. Menurut Siswanto memang tidak semua tukang tambal ban melakukan perbuatan yang merugikan ini. Menurutnya ada suatu sindikat tukang tambal ban nomaden yang perlu dicurigai terkait fenomena ranjau paku, bahkan menurutnya pula sindikat tersebut telah melakukan aksi tebar ranjau paku sejak beberapa tahun lalu. Walaupun komunitas Saber selalu rutin membersihkan daerah daerah rawan ranjau paku namun selalu saja masih ada oknum yang juga tidak kalah rutin menebar paku kembali. Bahkan komunitas ini berhasil mengumpulkan paku sebanyak 2,5 ton dalam kurun waktu 4 tahun. Sehingga untuk pendanaan, komunitas ini mengandalkan uang yang diperoleh dari menjual paku paku yang mereka dapat.
Komunitas Saber berdiri pada 5 Agustus 2011 hingga saat ini beranggotakan 21 relawan dengan 220 simpatisan. Motif Siswanto dan Abdul Rohim membentuk komunitas Saber tidak terlepas dari pengalaman buruk mereka yang pernah bahkan sering menjadi korban ranjau paku. Bermula dari memunguti sendiri paku paku di jalanan hingga mulai banyak orang yang mengikuti aksi sukarela tersebut. Dalam membersihkan paku paku di jalanan Siswanto menuturkan bahwa tidak ada jadwal yang mengikat, penyapuan dan pembersihan bisa dilakukan kapan saja.
Walaupun komunitas ini sangat menolong para pengguna jalan namun tetap saja ada beberapa pihak yang tidak menyukai aksi kepedulian mereka terutama para oknum penebar ranjau paku. Mulai dari teror hingga serangan fisik ketika sedang membersihkan paku.
Hingga saat ini memang masih susah untuk membuat jera para penebar ranjau paku karena kalaupun mereka tertangkap basah menyebar paku, mereka hanya mendapat tindak pidana ringan. Untuk itu Siswanto mengemukakan sebuah saran yang sekiranya bisa mengatasi tindakan tebar ranjau paku, dia mengatakan bahwa ada baiknya jika setiap stasiun pengisian bahan bakar menyediakan fasilitas tambal ban dimana para penambal ban akan mendapat gaji sehingga usaha penebaran ranjau paku dapat diminimalisir.

tentang pesantren

A.     Metodologi Pembelajaran
            Pembelajaran dilakukan dengan menggabungkan berbagai model pembelajaran yang efektif. Semua pola tersebut berbasis pada model student-teacher aesthetic role-sharing, atau dalam bahasa komunitas tamansiswa, ing ngarso sun tulodo, ing madyo mangunkarso, tutwuri handayani, yakni guru harus mampu secara luwes dan memposisikan diri dalam pembelajaran, kapan di depan, di tengah, dan di belakang. Pembelajaran dilakukan secara  ngangeni, tidak menekan, dan inspiratif. pendidikan orang dewasa dan partisipatoris. Selain, hadirnya  ruang kreativitas dan dialektika gagasan kritis yang memadai juga merupakan bagian dari proses. Di antaranya:
1.      Bandongan.  Model ini merupakan metode standar pesantren, yang dilakukan secara kelas, dengan satu pengampu yang diikuti oleh seluruh peserta kelas bersangkutan.
2.      Sorogan. Metode ini dilakukan untuk memperkuat pemahaman santri dalam membaca teks kitab kuning, yang dilakukan seorang pengampu dengan santri satu per satu. Dalam metode ini santri diminta untuk menjelaskan (tatbiq) konteks nahwu, shorof, dan memahami maksud teks.
3.      Diskusi kelompok (musyawarah). Metode ini dilakukan dengan peserta semua santri untuk mengkaji materi pelajaran secara mandiri, tanpa didampingi oleh pengampu (guru).
4.      Bahsul masaail. Metode ini digunakan untuk melakukan riset teks atau pustaka untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer.
5.      Short-course. Metode ini diadakan untuk memberikan materi-materi tematik, seperti pelatihan menulis, pelatihan riset,  yang dilakukan secara incidental  sesuai kebutuhan.
6.      Bedah kitab-buku. Metode ini digunakan untuk menimbang gagasan pokok dalam sebuah buku-kitab, kritik terhadapnya, dan komparasinya dengan buku lain.
7.      Kajian film. Metode ini digunakan untuk memperkuat listening dalam bahasa dan mengasah nalar kritis santri  terhadap gagasan dalam film.
8.      Live-in, mini-trip, meet the leader. Metode ini digunakan untuk melihat persoalan secara langsung, melakukan pengamatan, pelatihan analisis dan integrasi sosial, pengorganisasian masyarakat, pendampingan, dan berbagai pengalaman dengan tokoh.
9.      Konseling. Metode ini digunakan untuk memberi kesempatan kepada santri untuk mendapatkan bimbingan ilmiah, psikologis, dan lainnya secara private.



B.     Nilai-Nilai Pendidikan

1.     Tauhid
Tauhid merupakan nilai tertinggi dalam pendidikan. Tauhid merupakan kombinasi iman (keyakinan), Islam (kepasrahan), ihsan (kesadaran akan kehadiran Alloh swt dalam semua kehidupan), dan taqwa ketulusan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.  Tauhid menciptakan kesadaran historis bahwa manusia adalah hamba Allah  swt.  Penghayatan dan keyakinan mengenai keesaan Allah swt  memiliki berbaga manfestasi, di mana mencari pengetahuan merupakan manifestasi paling mulia. Tauhid merupakan konsep yang all-ambracing dalam segenap  proses pendidikan. Tauhid mendorong kesatuan umat manusia, kesatuan manusia dan alam, dan kesatuan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai. Tauhid membuat keseluruhan aktivitas akademik menjadi bermakna dan memiliki tautan pijakan  trandental.


2.     Adil
Adil adalah cara berfikir, bersikap, bertindak yang tegak dan lurus, tidak terjebak dalam salah satu dari dua kutub ekstrem.  Adil adalah memperlakukan sesama secara sama, tidak mendiskriminasi, tidak membeda-bedakan, menunaikan hak orang lain secara penuh, menempatkan sesuatu sesuai tempatnya, memberi penilaian/hukuman dengan adil.  Adil adalah setimbang, menjaga kesetimbangan yang sudah strukturnya sudah ada dalam mikrokosmos dan makrokosmos.  Menciptakan kesetimbangan dalam mikrokosmos dan makrokosmos merupakan tugas abadi dalam


3.     Amanah dan Jujur
Dalam kehidupan yang serba materialistis, kepalsuan, kebohongan, dan kamuflase ini, sikap amanah dan jujur mendapat tantangan besar. Namun demikian perlu terus dipertahankan. Sikap amanah dan jujur  ditumbuhkan dengan membangun tradisi kejujuran baik pada diri sendiri maupun pihak lain. Sikap tidak jujur akan menodai prinsip amanah, karena itu civitas akademik harus dikenai sanksi kelembagaan secara tegas. Amanah sebagai ruh kehidupan harus terus dipertahankan, dibiasakan, dan ditradisikan dalam sikap dan perilaku sehari-hari civitas akademik, baik di lingkungan kampus maupun kehidupan. Kehidupan pribadi dan sosial akan hancur jika tidak dibangun atas fondasi komitmen menepati janji. Janji kepada diri sendiri, janji kepada keluarga, janji kepada masyarakat, janji kepada organisasi merupakan ekspresi keimanan sekaligus menjadikan kehidupan berjalan dengan baik dan benar.  Janji yang selalu ditepai akan melahirkan kepercayaan sosial yang tinggi yang menjadi sendi kehidupan masyarakat. Sebaliknya, janji yang tidak ditepati akan menghancurkan sistem sosial, kepercayaan sosial, konflik, permusuhan, dan kerja sama dalam hidup.


4.     Ibadah (pengabdian)
Pergulatan akademik, baik pendidikan dan pengajaran, kajian dan riset, haruslah berangkat dari semangat pengabdian baik mengabdi pada almamater, keluarga, masyarakat, umat, bangsa, dan seluruh umat manusia. Dengan demikian, aktivitas akademik bukanlah untuk mencari penghasilan, mencari pengaruh,  mencari jabatan, namun sebagai tugas manifestasi dari ibadah mulia. Dengan semangat pengabdian itu, para lulusan akan gigih dan ikhlas membangun dan memajukan agama, masyarakat, dan bangsa.


5.     Zuhud
Sikap amanah dan pengabdian muncul bila seseorang memiliki jiwa asketik (bersikap zuhud). Karena pada dasarnya sikap materialistik (hubbud dunya war-riyasah) akan menggerogoti sikap amanah dan akan merapuhkan semangat perngabdian. Zuhud  bukanlah anti duniawi, anti kemajuan, tetapi menempuh hidup sederhana, tahu batas, tahu kepantasan sebagaimana diajarkan oleh para salafus sholih. Dengan sikap asketik itu integritas kelimuan dan lulusan aswaja nusantara akan terjaga, sehingga kekuatan moral yang dimiliki bisa digunakan untuk menata bangsa ini. Imam Junaid menegaskan "Zuhud bukan dengan meninggalkan dunia, tetapi dengan menempatkannya hanya di tangan, bukan di hati."


6.     Tawakkul (tawakal)
Di tengah problematika kehidupan yang semakin kompleks dan rumit seperti saat ini, dibutuhkan sikap tawakal, yang berarti menyandarkan segala ikhtiar pada Alloh swt, adanya harapan dan optimisme bahwa segala sesuatu selalu ada solusi  di mana Alloh swt tidak akan menyi-nyiakan amal perjuangan, selalu menolong hamba-hamba-Nya yang sholih,


7.     Ukhuwwah
Persaudaraan keislaman, kebangsaan,  dan kemanusiaan merupakan prinsip sosial yang menjadi tiang pancang harmoni kehidupan beragama, bermasyarakat, dan bernegara. Proses pendidikan dirancang untuk membangun kesadaran kritis mengenai persaudaraan di tengah dominasi individualisme dan persaudaraan sempit yang membelah persatuan dan kesatuan sebagai umat Islam, bagian masyarakat, dan warga negara bangsa.


8.     Uswatun hasanah
Keteladanan yang baik merupakan prinsip dasar yang harus dimiliki setiap pemimpin masyarakat. Kepemimpinan akan memiliki legitimasi moral dan sosial jika dibangun atas dasar visi yang kuat, program yang baik, pelaksanaan yang hebat, serta keteladanan yang inspiratif. Keteladanan merupakan ekspresi akan keyakinan terhadap nilai-nilai dasar yang diyakini kebenarannya. Kumpulan nilai-nilai dasar tidak akan ada artinya jika tidak disertai keteladanan implementasinya dalam kehidupan nyata.


9.     Ikhlas
Semua manusia akan hancur, kecuali orang yang beriman. Semua orang yang beriman akan hancur kecuali orang yang berilmu. Semua orang yang berilmu akan hancur kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Semua yang mengamalkan ilmunya akan hancur kecuali orang yang ikhlas dalam beramal. Dialektika akan berjalan kea rah positif jika dan hanya jika setiap aktivisme kita didasari oleh ketulusan, tanpa pretense, tanpa pamrih, semuanya semata karena kebaikan dan lillah-ta’ala.


C.      Durasi Pendidikan
            Pendidikan ini dapat ditempuh secara utuh sekitar selama 5 tahun. Akan tetapi, dapat dipadatkan menjadi sekitar 3 tahun (sesuai dengan kapasitas input).


D.     Kurikulum
            Struktutr Kurikulum diturunkan dari 4 kompetensi berikut ini, yang dijabarkan dalam silabus sesuai dengan tingkat satuan pendidikan masing-masing:

1.     Dirosah Islamiah Pesantren
a.       Tauhid
b.      Fiqh
c.       Nahwu
d.      Shorf
e.       Tajwid
f.        Akhlak
g.       Balaghoh
h.      Mantiq
i.         Ushul Fiqh
j.         Tafsir
k.       Hadits
l.         Tasawwuf
m.    Ke-aswaja-an
n.      Ke-NU-an

2.     Bahasa
a.       Bahasa Indonesia
b.      Bahasa Jawa
c.       Bahasa Arab
d.      Bahasa Inggris


3.     Metodologi
1)     Tingkat SD-SMA
a.       Mind-Mapping
b.      Analisis Diri
c.       Komunikasi
d.      Respect-Care-Responsible
e.       Kreativitas
f.        Sense of Curiosity (eskploratif)
g.       Berani Bermimpi
h.      Belajar Efektif
i.         Berfikir Ilmiah
j.         Mini-Riset


2)     Tingkat Mahasiswa-Pasca
a.       Logika
b.      Epistemologi
c.       Filsafat Ilmu
d.      Statistika
e.       Pengantar Riset
f.        Analisis Sosial
g.       Riset Kuantitatif
h.      Riset Kualitatif
i.         Riset Advokasi
j.         Riset Keislaman
  
4.     Leadership
1)     Tingkat SD-SMA
a.       Public-Speaking
b.      Creative Writing
c.       Meet the Leader
d.      Manajemen Waktu
e.       Mini-Trip
f.        Pengantar Sejarah
g.       Social Involvement
h.      Pengantar Organisasi dan Manajemen
i.         Manajemen Konflik
j.         Creative Enterpreneurship

2)     Tingkat Mahasiswa-Pasca
a.       Kepemimpinan Transformasional
b.      Demografi
c.       Sejarah Lokal, Nasional, Global
d.      Pengorganisiran Komunitas
e.       Geopolitik, Georkonomi, Geokultur
f.        Strategic Planning
g.       Monev
h.      Fund-raising
i.         Financial Integrated Planning


5.     Kajian Lanjut (speasialisasi)
a.       Tahfidz dan Tafsir
b.      Falsafatut Tasyri’ dan Ushul-Fiqh
c.       Pemikiran dan Peradaban Islam Global
d.      Pemikiran dan Peradaban Barat
e.       Pesantren Based Community Development

                                                     
E.    Fasilitas
1.      Perpustakaan Tiga Bahasa
2.      Jurnal Internasional (National Geography)
3.      Jurnal Nasional (prisma)
4.      Majalah Mingguan Nasional
5.      Koran Nasional
6.      HotSpot Internet

7.      Dll